Kuperhatikan wajah Shela agak mengerenyit seperti menahan rasa sakit serta menghentikan gerakan pantatnya serta bersuara pelan tepat di dekat telingaku, “Aduuuhh…, ooomm…, Jangaannn…, sakiiittt…, Asiihh.., takuuut., Oom”.Mendengar suaranya yang sedikit menghiba itu, segera kuhentikan tusukan penisku dan kuelus-elus dahinya sambil kucium telinganya serta kubisikan, “Tidak…, apa-apa…, sayaang…, Oom…, pelan-pelan saja…, kok”, untuk menenangkan ketakutan Shela. Bokep Ketika sudah sampai di depan sekolahnya sambil membuka pintu mobil, Shela berkata, “Oom.., terima kasih yaa.. Setelah dia naik ke mobil, kembali kulihat matanya tetap seperti habis menangis.Lalu kutanya, “Shela…, habis perang lagi yaa?, soal apa lagi?”.“Oom, ceritanya nanti saja deh”, katanya agak malas.“Kita mau kemana Oom?”, Tanyanya.“Lho…, terserah Shela saja.., Oom sih ikut saja”.“Oom…, saya kepingin ke tempat yang agak sepi dan nggak ada orang lain…, jadi kalau-kalau Shela nangis, nggak ada yang melihatnya kecuali Oom”.Sambil memutar mobilku kembali ke arah Cirebon, aku berpikir sejenak mau ke tempat mana yang




















