Kantornya “x” (nama koranku), khan. Bokep “Bolehlah.” Kataku, setelah berpikir kalau besok aku tidak harus pagi-pagi ke kantor. Tangannya menggapai kemaluanku yang sudah menegang dan membesar dari tadi. Waktu teriak, ikutan teriak. Eh dia lebih galak.”
“Dibalas lagi dong. Rambutnya panjang. Bukan menghujat. Aku males pulang jadinya. Dengan lagak dan gaya masing-masing mereka berpose. Waktu teriak, ikutan teriak. Sama saja kejadian waktu meliput demontrasi mahasiswa dulu. “Kamu sudah punya pacar, belum?” Tanyaku. “Ngghh…, ngghh..”
Aku pegang batang kemaluanku sebelah tangan dan kemudian kurasakan muncratnya air maniku dengan kencang dan banyak sekali keluar dari batang kemaluanku. Apakah pemimpin partai itu menghargai kenekadan mereka? Bukankah ____ (nama partai) baru besok kampanyenya?”. Rumah saya di dekat situ juga.”
“Boleh saja.” Kataku, “Tapi katanya mau tetap di sini?




















