Tidak cukup lama, orang-orang sudah berkerumun ke arah anak itu. “Beli ini, Pak, beli ini, Bu,” kata anak laki-laki itu. Bokep Aku serius soal ini. Anak itu kembali menyodorkan jualannya, tapi kini cara berdirinya kurang stabil. Itu cuma dugaanku. Itu cuma dugaanku. Beberapa di antara mereka malah lebih menakutkan daripada hantu-hantu yang bergentayangan di rumah-rumah tua. Hingga beberapa gerombolan anak datang menghampiri anak laki-laki itu. Aku kini mulai bingung. Meskipun hujan membuatku gigil, atau panas yang datang tak tanggung-tanggung. Aku kini mulai bingung. Dia terlihat girang sekali memperoleh uang seribuan. Kisah-kisah miris semacam itu sudah jadi makanan sehari-hari. Darah seketika muncrat ke mana-mana. Aku yakin sekali, orang tuanya sudah berhasil mendidiknya dengan ajaran agama. Malam semakin larut. “Woi!” teriak salah satu anak dari gerombolan itu dengan kasar. Ketika hujan datang, aku membasah. “Kamu tidak perlu melakukan itu.”
“Aku tidak ingin kamu sakit.”
“Aku sudah pakai jas hujan.”
“Itu tidak cukup.”
Lalu,




















