Entah ide dari mana, pelan-pelan tanganku menyentuh dadanya. Bokep Kejantananku menekan kemaluannya, tergadang kugosok-gosokkan. Kabar yang dibawanya dari dokter membuat seisi rumah tersentak. Aku naik kembali ke tempat tidur.Tapi aku sudah telanjur tidak dapat tidur. Badanku belumlah terlalu besar. Kamipun duduk di pinggir tempat tidur. Seerr, kejantananku sakit sekali rasanya. Malam-malam, kalau Kak Tina tidur, aku menjelajahi tubuhnya. Sepasang putingnya melesak di balik daster tipisnya. Mukanya yang sedikit hitam bertambah gelap. Kak Tina tak pernah lupa mengunci lemarinya. “Berdiri sebentar, Sapto”. “Mimpi apa kamu, Sapto?”. Bikin malu saja”, Kata Kak Tina. “Benar. Masih boleh kok. Aku menikmati saat itu. “Kak, Saya bisa pinjam nggak?”. Kumasukkan kembali novel-novel itu. Sudah bisa dapat anak”. Dia sudah lama tinggal dengan Pak Rochim. Benda lembut sebesar apel itu terasa lebih hangat.Kejantananku menegang. Saat ini aku merasakan puber yang sebenarnya.Saat tangan Kak Tina mencoba meraih ritsluiting celanaku, terdengar suara motor bebek memasuki




















