Kadang aku ingin, sekali-kali memberontak, melanggar aturan. Sip. Bokep Aku segera membuka mataku untuk menegur orang tuanya. Mengurangi kebisingan akibat lalu lalang orang mencari tempat duduk.“Mas, mas, maaf …,” ada suara merdu rupanya. Berulangkali.Aha, aku merasakan jariku seperti tersedot ke dalam. Aku jengkel banget.Hujan mulai turun. Mungkin 5 menit, mungkin kurang dari itu. Memejamkan mata.Lama sekali. Aku beringsut lagi mendekati tubuhnya. Kemudian dia berlanjut mengelus kontur penisku dengan jari telunjuk dan jempolnya yang tercetak jelas di dalam celanaku. Yang lebih mengejutkan lagi, tangan ibu itu mulai mengelus pahaku. Airnya menetes membentuk alur di kaca jendelaku. Aku mulai tidak sabar. Bayanganku memang menjadi kenyataan. Tidak berasa memang. Dapat.Jelas, ini sutra. Aku memilinnya. Kali ini cukup lama. 4 hari sebelum pernikahanku.




















